Lihin Belawa

Hanya Celoteh Guru | Belawa to The World

Pasang Iklan

Listrik Padam Penambah Semangat | Kisah 9 Hari di Maluku Utara

Listrik Padam Penambah Semangat | Kisah 9 Hari di Maluku Utara

Listrik Padam Penambah Semangat (13 Mei 2013)

25 tahun lalu, saya masih merasakan temaram lampu teplok, paling elit petromax. Sial jika sumbu dari gulungan kain basah, atau kantong petromax bolong, gelap. Jika perbendaharaan kata hari ini jumlahnya 5 juta kata, berarti waktu itu, 5 juta kurang satu. Tak ada kata “Listrik,” dan tak ada teriakan “woy listrik padam.” Ucapan keras yang paling sering terdengar 3 hari di Kepulauan Sula, Maluku Utara.

Beberapa kali Tarif Dasar Listrik (TDL) dinaikan, semua pasti dengan alasan. Terakhir tahun kemaren, untuk 900 watt sampai 6000 watt TDL dinaikan. “Ada 1,3 juta masyarakat tak menikmati aliran listrik, jika tidak dinaikan,” kata pak Jero Wacik. Alasan itu tentu dikemas pula dengan alasan perbaikan, pelayanan prima, sampai dengan kata kepuasan pelanggan. Padahal masyarakat, hanya butuh jangan ada pemadaman listrik.

Beberapa daerah di Maluku Utara, mengalami pemadaman berbeda. Kata penduduk setempat, di Ternate, sehari jatahnya sekitar sejam. Nah, di Kepulauan Sula listrik padam sehari bisa 5 kali, lama pulak. Keren gak tuh??.

Masalah listrik padam pun kemudian bergeser jadi komuditi, sampai komuditi politik. Penggunaan bahasnya juga bervariasi. Dari momen tagline kampanye sampai black campaigne.

“Bupati dalam kampanye menjanjikan listrik gratis kepada masyarakat, sekarang ternyata pemerintah tak mampu membayar, akhirnya PLN juga tak mau rugi. Alasan PLN sederhana, ada kerusakan.” Ungkapan sinis teman sebangku saya sore itu.

Dengan sedikit merenung, sebenarnya masalah listrik padam sehingga menyakitkan, hanya karena persoalan ada kemudian tak ada, pernah terang, kemudian gelap. Padahal, banyak hal lain akibat padamnya listrik menjadi ceritera menarik, dan bahkan bisa menjadi penambah semangat.

Di sebuah perjamuan, makanan enak letaknya di depan pembesar dan para pejabat. Banyak yang enggan dan malu mencaplok makanan di depan pembesar dan pejabat itu. Walhasil, listrik padam. Atas perintah empunya acara, penerang manual dinyalakan. Dan, makanan di depan pembesar itu ludes tak tersisa.

Teman saya, hafizh al-Quran. Ketika melakukan murajaah mengulangi hapalan, kebiasaannya sedikit melirik mushaf saku di tangannya. Ketika listrik padam, hal itu tak mungkin dilakukan. Justru tanpa melirik mushaf dalam mengulangi hapalan, lebih membuat kuat dalam ingatan.Alquran Ngaji

Segala sesuatu memiliki sisi negatif dan positif, tergantung bagaimana kita meresponya. Listrik padam, umumnya menyakitkan dan membuat kesal. Tapi siapa sangka salah satu hal positif dari padamnya listrik bisa menambah semangat, dan menginspirasi trik baru.

Listrik padam dalam perjamuan di atas, membunuh rasa enggan dan menambah semangat mencaplok makanan sampai ludes. Masih halal. Dari sisi etika, maknanya juga beragam. Lihat pula, bagaimana listrik padam mampu menyadarkan seseorang akan trik lebih tepat dalam mengulang hapalan dengan membiasakan tanpa mushaf.

Bukankah listrik alam terbesar telah disediakan Tuhan melalui matahari?. PLN dengan daya terangnya, hanyalah listrik kecil bagian dari kreasi manusia. Dan bukankah semuanya adalah ujian? #Agatona pale lo dipau

Bersambung

Tags:

Subscribe

Berlangganan gratis bersama 1000+ lainnya. Masukan e-mail, masukan kode, "submit." cek e-mail, klik link konfirmasi. Mari berbagi :)

No Responses

Leave a Reply