Mencolek Peran Guru dari Pendekatan Andragogis dalam Sistem Kredit Semester

Beberapa hal baru merebak akhir-akhir ini terkait dengan beberapa perubahan kurikulum Pendidikan Dasar dan Menengah yang masih dalam tahap uji publik, dan direncanakan akan mulai diterapkan pada 2013. Perubahan tersebut salah satunya, yaitu Sistem Kredit Semester (SKS) untuk Sekolah Menengah Pertama/Madrasah Tsanawiyah, dan Sekolah Menengah Atas/Madrasah Aliyah, sebagai amanah UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Pasal 12 ayat 1 dan 2.

Namun demikan, inovasi pemerintah ini bukan berarti tak memiliki aral. Kehati-hatian pemerintah dengan melakukan uji publik terlebih dahulu, dan beberapa kritik dari pakar pendidikan, adalah indikasi adanya halangan, yang perlu menjadi perhatian demi ketercapaian hasil maksimal.

Sebagai seorang guru, kekhawatiran akan kelemahan Sistem Kredit Semester dalam pikiran penulis diantaranya; 1) Kebanyakan pengajar (mungkin hanya di lingkungan penulis), fokus hanya pada hasil belajar, dan bukan pada prestasi belajar. Akibatnya, keberhasilan sebagai bentuk punishment pribadi dan lembaga terkadang disalahgunakan. 2) Kepincangan output peserta didik rawan terjadi. Bisa dibayangkan, ketika dalam satuan pendidikan menerapkan Sistem Kredit Semester, dan membuat puluhan peserta didik terhambat dari waktu umum ketika tidak menggunakan Sistem Kredit Semester. 3) Guncangan sosial lingkungan sekolah akibat kurangnya pemahaman dari orang tua peserta didik.

Namun bagi penulis, dalam panduan Sistem Kredit Semester yang dikeluarkan Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP), tersirat pendekatan andragogis dalam muatan Sistem Kredit Semester. Pendekatan andragogis yang bertujuan mengembangkan pribadi seseorang baik sebagai individu maupun sebagai anggota kelompok melalui reeducation dan therapy. Dengan cara ini, setiap peserta didik diberi kesempatan dan kebebasan untuk melibatkan diri dalam aktifitas pendidikan.

Dalam proses (non-teknis) ini, antara guru dan peserta didik diposisikan sama, yaitu sebagai warga belajar yang mempunyai kemerdekaan atas diri mereka masing-masing. Kemerdekaan di sini tidaklah bersifat radikal dan tanpa batas. Kemerdekaan dalam artian, setiap individu tak terkecuali peserta didik berhak memilih, tidak harus seragam (uniformity), tidak tertekan, dan sebagainya yang dapat mengurangi kemandirian, kepercayaan diri serta kreatifitasnya dalam proses pembelajaran.

Jika menilik dari pendapat Paulo Freire, akan sangat sinkron. Bahwa kehendak bebas pada tiap individu harus didasari dengan kesadaran kritis. Karena keduanya merupakan keterpaduan antara teori dan praktek, sehingga akan membentuk apa yang disebut praksis, di mana seorang peserta didik melakukan suatu tindakan atas dasar kemauan serta disesuaikan dengan kemampuan mereka, melalui analisa mereka terlebih dahulu dan disesuaikan dengan bakat dan minat mereka.

Sampai di sini, posisi guru sebagai ujung tombak keberhasilan pendidikan tampaknya akan diuji lebih bersifat asasiy, mendasar, dan sesuai hakikat kemanusian sebenarnya, melalui Sistem Kredit Semester. Setidaknya ada tiga colekan peran guru dari sisi pendekatan andragogis dalam Sistem Kredit Semester;

Jiwa dan kejiawaan Guru

Sebuah syair Arab terkait dengan guru dalam pembelajaran, dan hubungan kejiawaan guru dan peserta didik berbunyi:

al-Thoriqatu Ahammu Min al-Maddah. Wa al-Mudarris Ahammu Min al-Thoriqah. Li Anna Ruh al-Mudarris Ahammu Min Nafsi al-Mudarris.

Arinya;  “Metode itu lebih penting daripada materi. Tapi guru lebih penting daripada metodenya. Karena sesungguhnya jiwa guru lebih penting daripada guru itu sendiri”.

Jiwa guru adalah pengabdian, karena dia adalah pahlawan. Guru dalam mengajar adalah penjiwaan rutinitas perilaku dalam mengajar. Jiwa guru adalah ketenangan jiwa. Sistem dalam suatu proses pembelajaran bisa berhasil jika pelaku pembelajaran adalah individu yang saling menjiwai.

Pendekatan andragogis dalam Sistem Kredit Semester adalah sistem yang akan mendorong terjadinya dialog antar pribadi yang saling terbuka memberikan umpan balik secara spontan (apa adanya), sehingga pada akhirnya menumbuhkan rasa percaya diri, dan mandiri. Dari sisi ini, penjiwaan guru terhadap aktifitas belajarnya akan semakin dalam. Sisi lain, pengenalan jiwa masing-masing peserta didik, berpotensi menciptakan ketenangan terhadap pribadi peserta didik dan proses pembelajaran itu sendiri.

Guru terhadap Ranah Afektif Peserta Didik

Pendidikan sejatinya tidak hanya menitikberatkan pada aspek kognitif saja namun juga harus menitikberatkan pada aspek sikap dan perilaku siswa (afektif). Hadirnya Sistem Kredit Semester, secara langsung menjadi sistem yang memaksa guru bukan hanya fokus pada aspek kognitif, tapi sekaligus aspek afektifnya. Sebagai contoh, dalam panduan Sistem Kredit Semester dikatakan;

“Kegiatan mandiri tidak terstruktur adalah kegiatan pembelajaran yang berupa pendalaman materi pembelajaran oleh peserta didik yang dirancang oleh pendidik untuk mencapai standar kompetensi. Waktu penyelesaiannya diatur sendiri oleh peserta didik.”

Terlihat jelas, keterlibatan peserta didik dalam menentukan waktu penyelesaian kegiatan mandiri tidak terstruktur, akan merangsang perkembangan afektifnya. Peran guru hanya terkait pada rancangan materi. Pintu simbiosis mutualisme akan terbuka dari proses masing-masing peran guru dan ranah afektif peserta didik

Peran Guru secara Teknis

Penetapan beban belajar dalam Sistem Kredit Semester poin ke-2 disebutkan;

“Waktu untuk penugasan terstruktur dan kegiatan mandiri tidak terstruktur bagi peserta didik pada SMP/MTs/SMPLB maksimum 50% dari jumlah waktu kegiatan tatap muka dari mata pelajaran yang bersangkutan”.

Melalui Sistem Kredit Semester khususnya dalam poin ini, maka secara psikologis guru tidak akan merasa dikejar dengan target hasil belajar dengan waktu yang ditentukan, karena hak dan posisi peserta didik sebagai subjek belajar, memilih bidang studi sesuai bakat dan minatnya, dimiliki oleh peserta didik. Apalagi ketentuan waktu maksimum hanya 50% dari jumlah waktu tatap muka.

Pendekatan andragogis yang tersirat dalam Sistem Kredit Semester, menurut penulis sangat menyenangkan dan bukan beban, serta akan efektif hasilnya, jika pemahaman akan hak asasi dengan mengalami menjadi nyata. Efeknya akan jelas, peserta didik menjadi antusias, dan terlatih menjadi mandiri. Peran guru kembali dicolek dalam suatu khazanah dan nuansa baru. Semua akan sulit jika belum tahu dan belum mencoba. Guru Indonesia adalah pahlawan, dan pasti bisa.

Semoga...

Tulisan diikutsertakan pada Lomba Blog Gerakan Indonesia Berkibar "Guruku Pahlawanku"

Leave a reply "Mencolek Peran Guru dari Pendekatan Andragogis dalam Sistem Kredit Semester"

Author: 
author
Identitas yang sedikit sulit dieja. Nama Lengkap: Mushlihin al-Hafizh, Guru, Alamat: Sengkang Kab. Wajo – Sulawesi Selatan. Pernah menempuh pendidikan di Sekolah Dasar, masa PMP dan PSPB. Kontak @Mushlihin_lihin PIN: 2632A877