Pasang Iklan

Nilai Filosofis Ibadah Kurban

Sejak kemarin, jamaah haji berondong ke padang Arafah untuk melaksanakan salah satu rukun haji. Tiada terkecuali, sehat, tua, sakit, jompo… Semua. “Haji itu di padang Arafah”, kata Nabi saw.

Berkaitan dengan hal itu, pada hari tasyrik (11, 12, 13 Zulhijjah), umat Islam diperintahkan berkurban dengan tujuan utama mendekatkan diri kepadaNya. Banyak yang melakukan dengan varian dan model beragam. Mulai dari bentuk pelaksanaan, pemahaman, sampai status sosial.

Kurban secara umum berasal dari bahasa Arab, Qarbun yang berarti dekat. Dari akar kata ini, tujuan utama  ibadah kurban, adalah mendekatkan diri kepada Allah swt. Kasat mata mungkin terkesan sedikit unik, dan tersisa 1001 pertanyaan seputar kurban, diantaranya;

  1. Jika ibadah kurban untuk mendekatkan diri kepada Allah, kenapa justru materi kurban untuk manusia lain?
  2. Dari semua literatur disebutkan, bahwa bentuk kurban pada waktu itu adalah hewan dan bukan binatang… Meski kemudian ada pendapat yang menyebutkan bolehnya, mengganti materi kurban seharga hewan yang akan disembelih.
  3. Kenapa kegiatan kurban ini dirangkaikan dengan perayaan Idhul Adha?

Pertanyaan nyeleneh seperti ini terkadang dijawab oleh beberapa orang dengan singkat, “itu sudah ketentuan” katanya. Jawaban apologetik, pembelaan atas ketidaktahuan, atau kemalasan menjawab. Mudah-mudahan prasangka salah…

Dengan nakal Nurkholis Majid pernah mengilustrasikan manusia sebagai (t)uhan kecil dengan rangkaian kerangka narasi filosofis yang panjang. Penulis memahami dengan sederhana; manusia memiliki unsur ke-Tuhan-an, ditiupkan ketika penciptaan ranah kedagingan telah sempurna, dan berasal dari Ruh Tuhan. Inilah alasan mengapa malaikat dan iblis sebagai pribumi pertama surga diperintahkan sujud kepada Adam, mengapa ketika ketika ada manusia meninggal/ wafat, kita mengatakan “sesunggunya kami dari Allah dan akan kembali kepada Allah”. Dengan ini pula, Nabi diutus untuk menyempurnakan akhlak, dan bukan menjadikan, membuat akhlak. Akhlak telah ada. Dari sini pula, negasi bahwa semua manusia (yang memiliki unsur ke-Tuhan-an), tahu akan kebenaran, meski tanpa agama. Dan masih banyak hal lain sebagai bukti.

“Kemanusiaan seorang manusia” adalah kalimat yang menyiratkan bahwa manusia dan orang berbeda. Memotong ranting, bukan menyembelih ranting. Kebun binatang, tanpa pernah kebun hewan, menunjukan hal berbeda. Secara linguistik, banyak kamus menjelaskan perbedaan maknanya. namun dalam kaitan kurban untuk mendekatkan diri kepada unsur penggerak yang tak bergerak, ini menjadi fundamental.

Menyembelih, dikhususkan kepada hewan. Dalam syariat, sejatinya dengan niat dan tujuan tertentu. Binatang lebih cenderung mengilustrasikan sifat. Semua Nabi pernah mengembalakan kambing, karena terbukti kambing adalah binatang yang paling sulit digembalakan. Nabi dilatih untuk mengembalakan sifat ke-binatang-an manusia nantinya. Dengan demikian menyembelih hewan tidak hanya masalah membuang sifat kebinatangan seperti yang diuraikan pakar tafsir Prof Quraish Sihab. Tapi juga aksi menunjukan kerelaan memberi dari unsur daging lain kepada manusia lain.

Lantas kenapa dirangkaikan dengan perayaan Idul Adha?…Saatnya saya akan mengatakan, “itu sudah ketentuan”. :D

Selamat Menunaikan Hari Raya Idul Kurban… :)

Subscribe

Berlangganan gratis bersama 1000+ lainnya. Masukan e-mail, masukan kode, "submit." cek e-mail, klik link konfirmasi. Mari berbagi :)

One Response

  1. Kegiatan yang Dilakukan Selama Pelaksanaan HajiSeptember 23, 2013 at 13:20Reply

    […] haji teebih dahulu lalu melaksanakan umrah. Bagi jamaah haji yang memilih cara ini tidak diwajibkan membayar dam. Pelaksanaan ibadah haji ifrad biasanya dilakukan apabila masa waktu wukuf jamaah haji sudah dekat […]

Leave a Reply


6 + 9 =