6 Kesalahan Berpikir “Penganut” Hisab

2620 views

Kaum muslimin wajib mengikuti dan mencontoh Rasulullah saw dalam seluruh syariatnya. Demikian pula yang berkaitan dengan penentuan ibadah seperti puasa Ramadhan, Id, dan haji. Oleh karena itu, Rasulullah secara tegas mengajarkan cara penentuannya dengan rukyah atau hilal.

Banyak yang pura-pura toleran terhadap hal ini, mengatakan tidak ada yang salah. “semua tergantung keyakinan”, katanya. Padahal, sisi haram menunggu. Dalam kasus id misalnya, anda puasa, diharamkan muslim berpuasa pada hari id. Dan jika anda tidak tidak berpuasa sedangkan masih bulan ramadhan, diwajibkan bagi orang beriman pada bulan ramadhan untuk berpuasa.

Ibnu Hajar al-Asqalani berkata : “bangsa Arab, pada masa keemasannya telah ada orang yang dapat menulis dan mengetahui hisab, karena yang dapat menulis sangat sedikit sekali. Namun mereka tetap melakukan rukyah. Lalu beliau berkata lagi: “Sebagian kaum berpendapat merujuk kepada ahli hisab, mereka adalah Syiah Rafidhah.

Mari kita mencoba membedah sedikit masalah ini.

Bila kita meneliti argumentasi hisab dan ru’yah, kita akan berkesimpulan, bahwa ru’yah adalah pendapat yang paling rajih. Setidaknya ada 6 kesalahan berpikir, penganut hisab dalam menentukan awal dan akhir Ramadhan antara lain :

Pertama, penganut hisab membangun argumentasi mereka dengan keumuman ayat-ayat al-Quran;

“Dialah yang menjadikan matahari bersinar, dan bulan bercahaya, dan ditetapkan manzilah-manzilah bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan waktu.”

Ayat ini, tidak menunjukkan sama sekali perintah memulai puasa Ramadhan dengan hisab. Ayat itu hanya berhubungan dengan kegunaan diciptakannya matahari, bulan, dan kedudukan, yakni untuk mengetahui bilangan tahun, dan waktu.

Ayat ini umum dan berlaku kaidah umum tetap dalam keumumannya selama tidak ada dalil yang mengkhususkan. Pada kasus penentuan awal Ramadhan, ada nash sharih yang menyatakan bahwa penentuan awal dan akhir Ramadhan harus berdasarkan ru’yah bukan dengan hisab.

Kedua, penganut hisab juga menyandarkan pendapatnya pada hadis riwayat Imam Bukhari,

“Sesungguhnya kami ini adalah umat yang ummi. Tidak menulis dan menghisab.”

Pendapat inipun sebenarnya sangat lemah, karena hadis ini berbentuk akhbariyyah, yakni hanya menceritakan kondisi kaum muslimin pada saat itu. Ditinjau dari arah manapun, ummi bukanlah ‘illah (sebab tasyri’) ru’yah. Sehingga tidak bisa dikatakan bahwa bila mereka tidak ummi lagi, mereka boleh menetapkan Ramadhan dengan hisab. Atas dasar itu, hadis ini tidak menunjukkan perintah kepada kaum muslimin untuk melakukan hisab, akan tetapi hanya pemberitahuan mengenai kondisi kaum muslim pada saat itu, Kebolehan hisab yang digali dari hadis ini didasarkan pada mafhum hadis ini.

Ketiga, penganut hisab juga menyandarkan pendapat mereka dengan hadis riwayat Imam Muslim;

"Sesungguhnya bulan itu ada 29 hari, maka janganlah kalian berpuasa hingga melihatnya. Apabila mendung menutupi kalian, maka perkirakanlah." (HR. Muslim).

Mereka menyatakan bahwa “perkirakanlah” disini artinya hitunglah, yakni bolehnya menetapkan awal Ramadhan dengan hisab. Pendapat ini lemah. Sebab, untuk menafsirkan kata “perkirakanlah”, maka kita harus melihat konteks hadis tersebut secara utuh, dan membandingkan dengan nash-nash hadis lainnya. Jika kita perhatikan nash-nash hadis lain dapat disimpulkan bahwa “faqduruulahu” (perkirakan), artinya adalah “sempurnakanlah bilangan bulannya.” Sebagaimana riwayat lain menyebutkan;

"Berpuasalah kalian karena melihatnya (hilal) dan berbukalah kalian karena melihatnya (hilal). Apabila pandangan kalian tersamar (terhalang), maka sempurnakanlah hitungan bulan Sya’ban menjadi 30 hari". (HR. Bukhari Muslim).

Keempat, penganut hisab juga menyatakan bahwa kata “liru’yatihi” (melihatnya), tidak melulu bermakna melihat dengan mata telanjang. Namun kata “ra’a”, dapat diartikan berpikir. Oleh karena itu, mereka menyatakan bahwa riwayat-riwayat yang mencantumkan lafadz ra’a, bisa diartikan dengan memikirkan, atau bisa diartikan bolehnya menetapkan awal Ramadhan dengan hisab.

Pendapat ini juga lemah. Bila kita perhatikan keseluruhan nash hadis sangat jelas, bahwa ru’yah di sana berarti melihat dengan mata telanjang, bukan hisab. Pada hadis itu juga ada kata, jika terhalang mendung, maka sempurnakanlah hitungan menjadi tiga pula hari”. Lafadz ini dengan jelas menunjukkan bahwa ru’yah dalam nash tersebut berarti melihat dengan mata telanjang, bukan hisab. Sebab bila lafadz ra’a diartikan dengan hisab, maka apakah mendung (awan) bisa mengganggu perhitungan?

penganut hisab

Hadis ini menceritakan bahwa Rasulullah saw tidak melakukan hisab. Bagaimana bisa dikatakan bahwa tafsir “liru’yahihi” adalah menghitung (bukan melihat dengan mata telanjang).

Kelima, dari 5 rukun Islam, dan 3 diantaranya berkaitan langsung dengan waktu, hanya puasa yang langsung ditentukan secara ru’yah oleh Nabi cara menetapkannya. Shalat dan Haji tidak. Ini bermakna, bahwa keputusan tersebut bersifat qath’iy.

Keenam, kejadian ini marak setelah jaman orde baru “terkubur”, dan demokrasi “tanpa batas” berlaku.

Demikianlah pandangan pribadi saya terhadap cara penetapan awal dan akhir Ramadhan. Kesimpulan akhir;

“Bukankah selain perintah taat kepada Allah dan Rasul, kita juga harus bersikap taat kepada ulil amri?”.

Tags: #Puasa

  1. author

    Raihan marie Ramadhan5 years ago

    Begitulah Gan,namun kenapa tak disatukan saja “pendapatnya” untuk masalah penetapan awal dan akhir Ramadhan. Agar kita bisa merayakan hari kemenangan bersama-sama.
    Nice share,thanks ya.

    Reply
  2. author

    ririe5 years ago

    Kesimpulannya ikut puasa yg mulai tanggal 20 Juli kan?

    “selamat menunaikan ibadah di bulan Ramadhan” semoga kita bisa meraih segala keutamaan di bulan penuh kemuliaan ini…amiin:)Mohon maaf lahir dan bathin

    Reply
  3. author

    muhammad zuhri5 years ago

    Tapi ada saksi yg sdh disumpah melihat hilal tpi diabaikan. Bisa anda jelaskn?

    Reply
    • author
      Author

      Mushlihin5 years ago

      Tulisan di atas tidak berbicara proses sidang isbat, sumpah dan lihat melihat… trims

      Reply
  4. author

    juhaefah5 years ago

    mantap bro,pakar rukyah belawa,tp gmn dengan yang puasa hari rabu dia pake rukyah or hisab yah

    Reply
  5. author

    seno5 years ago

    Kebenaran tunggal hanya milik Tuhan.. tapi benar tidak hanya satu.
    Saya bukan Muhammadiyah tapi kenapa sih tiap kali ikut ngaji2 di kampung bareng kyai2 NU selalu ada “penyerangan’ kepada Muhammadiyah..entah secra halus atau langsung seperti kata-kata Samandiyah dll.

    Reply
  6. author

    dedi5 years ago

    lumayanlah tuk konsumsi orang awam… walaupun menulisnya terasa sarat emosi sampai dibilang hal ini terjadi mulai terkuburnya orde baru segala hehehe.. padahal masalah hisab ini adalah masalah dunia islam dan sudah dibahas oleh OKI dan lembaga2 hisab-rukyat linternasional lainnya waktu demi waktu.
    esensi hadits shumu liruyatihi.. adalah perintah kewajiban puasa (penegasan waktu), sama dengan hadits: solli idza… sholatlah jika matahari sudah tergelincir dst… (hadits panjang tentang waktu sholat) bukan perintah untuk melototin matahari, tapi untuk memberitahu batasan waktu sholat.
    OKI sudah merekomendasikan bahwa menyatukan kaleder islam dan menyamakan hari raya islam adalah kebutuhan mendesak dan urgen… yang tidak mungkin hal itu terjadi dengan mengandalkan rukyat…

    Reply

Leave a reply "6 Kesalahan Berpikir “Penganut” Hisab"

Author: 
author
Identitas yang sedikit sulit dieja. Nama Lengkap: Mushlihin al-Hafizh, Guru, Alamat: Sengkang Kab. Wajo – Sulawesi Selatan. Pernah menempuh pendidikan di Sekolah Dasar, masa PMP dan PSPB. Kontak @Mushlihin_lihin PIN: 2632A877