Review Proses Sertifikasi Guru 2006-2012

1144 views

Program sertifikasi guru yang dimulai tahun 2006, menorehkan beberapa catatan yang perlu dicermati. Kecurangan yang terjadi tiap tahun mengindikasikan bahwa guru yang notabene adalah pendidik dan pengajar di tanah air ini belum mengedepankan kejujuran dalam proses yang ditempuhnya untuk memperoleh predikat sebagai guru bersertifikat profesional.

Kebijakan berubah dari penggunaan portofolio, sertifikat dan penghargaan dari hasil seminar, workshop, pelatihan, dan lain-lain. Semakin banyak sertifikat dan penghargaan yang dikumpulkannya, poin portofolio-nya akan semakin tinggi. Menjadi Penilaian Portofolio (PF), Pemberian Sertifikat Pendidik secara Langsung (PSPL), dan Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG) Pada 2011 dan 2012.

Pemerintah melalui situs resminya menetapkan jalur PF hanya 1% dari total kuota guru yang akan disertifikasi; kuota dari jalur PSPL diperuntukkan bagi guru yang sudah S2 dan S3, dan memiliki golongan sekurang-kurangnya IVB bagi guru PNS; dan kuota dari jalur PLPG disediakan paling banyak.

Jalur PLPG inilah kemudian yang menimbulkan kecurangan-kecurangan. Padahal, pada tahun 2012 ini, kuota sertifikasi guru sudah dibuat secara online transparan bagi publik. Bagaimana atau apa saja bentuk kecurangan itu?

Salah satu syarat sertifikasi: seorang guru harus mengajar 24 jam seminggu dari mata pelajaran yang diampu. Jika hal itu tidak mencukupi dalam tiap satuan pendidikan bersangkutan, maka dapat mencukupi kekurangan di satuan pendidikan lain, dengan mata pelajaran yang sama. Di berbagai berita disebutkan adanya guru yang memalsukan jumlah jam mengajar. Sederhana,. Karena tidak mengajar sebanyak itu, datanya dipalsu, yang paling bertanggung jawab adalah urusan kurikulum dan KASEK. Ada juga guru yang merekayasa tahun (lama) mengajar agar masuk kuota. Lagi-lagi data persyaratan sertifikasi dipalsu.

Guru, yang dulu identik dengan sebutan pahlawan tanpa tanda jasa, sekarang ingin dibayar mahal tanpa jasa. Pengabdian guru tergerus arus budaya konsumtif dan instan di masyarakat. Istilah di baris terakhir himne guru: “Engkau patriot pahlawan bangsa tanpa tanda jasa”, menjadikan potret pendidik dan pengajar yang menyedihkan di negeri ini.

Istilah “tanpa tanda jasa” yang diganti “pembangun insan cendekia” (harian Kompas, 24 November 2008) berkaitan dengan kesejahteraan guru yang kian baik, jasanya kian dihargai. Namun, pertanyaannya, apakah guru-guru yang membangun insan cendekia di negeri ini yang memalsu data demi sertifikasi itu sudah lupa dengan pengabdian?

Sertifikasi guru sebenarnya hal yang baik, membuat kesejahteraan guru lebih diperhatikan. Namun, kesejahteraan perlu diraih dengan cara-cara yang halal dan sesuai aturan. Dan, kesejahteraan itu pun pada akhirnya menjadi batu uji bagi kompetensi seorang guru: sudahkah ia menjadi guru yang profesional? Sudahkah kompetensi mengajarnya seimbang dengan tunjangan sertifikasi yang diterimanya? Apakah tunjangan itu pada akhirnya hanya membuat guru lupa akan pentingnya sebuah pengabdian?

Pemerintah seyogyanya memperhatikan dengan sungguh-sungguh. Tidak sedikit laporan yang menyebutkan bahwa kinerja guru yang disertifikasi tidak mengalami peningkatan. Perlu ada pemantauan dan evaluasi yang berkelanjutan. Jangan sampai malah seorang guru yang lolos sertifikasi dengan cara tidak jujur, kemudian mendidik murid-muridnya dengan kompetensi mengajar yang tak mengalami kemajuan. Bila demikian adanya, betapa ironis bila guru menuntut anak didiknya berlaku jujur saat ulangan atau ujian.

Miris…

Tags: #Belajar #Certificates #Guru #Kritik #Pemerintah #Strategi

  1. author

    wicaksono5 years ago

    Saya menamainya pemborosan uang negara. Tanpa pengawasan. Guru bukan lagi pahlawan, tapi manusia berparadigma konsumtif. Terlalu tingi rasa iba kita. Tindakan tak masuk akal. Profesional diukur dengan kertas, dan atau pelatihan sebulan. Tiada jamina..

    Reply

Leave a reply "Review Proses Sertifikasi Guru 2006-2012"

Author: 
author
Identitas yang sedikit sulit dieja. Nama Lengkap: Mushlihin al-Hafizh, Guru, Alamat: Sengkang Kab. Wajo – Sulawesi Selatan. Pernah menempuh pendidikan di Sekolah Dasar, masa PMP dan PSPB. Kontak @Mushlihin_lihin PIN: 2632A877